Saturday, June 4, 2011

FAMILY (Father and Mother I Love You)

Diposkan oleh Chitra Lisyalaras di 6:36:00 AM 0 komentar

Reblog notes facebook, 20 November 2009

Kasih sayang orang tua terhadap anak emang gak ada matinya..
Kasih sayang ke temen, malah bisa jadi musuhan..
Kasih sayang ke pacar, malah bisa jadi putus...
Kasih sayang ke suami, malah bisa jadi cerai..
Ada mantan temen..
Ada mantan pacar..
Bahakn ada mantan suami..
Tapi, satu hal, gak ada yang namyanya mantan anak atau mantan orang tua..

Di bangku kuliah, saya lumayan mendalami mata kulaih statistik. Dalam statistik disebutkan bahwa ketika kita melakukan penelitian, jumlah observasi itu harus sebanyak mungkin, agar bisa mendekati nilai yang sebenarnya (aduh punten kalo saya salah tangkep, berarti saya bego, heuhue), demikian pula ketiga mengolah hasil input data dan menjadikannya dalam persamaan regresi, observasi kita pun harus banyak, terutama jika menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS), maka jumlah observasi yang dianggap "aman" adalah berjumlah 30.

Tapi, ya sudahlah, disini saya tidak akan memberikan perkuliahan statistik maupun ekonometrik, udah mabok, dan cukup di kelas aja, hihihi...
Back to kasih sayang orang tua... Sebenernya, banyak observasi yang menunjukkan bahwa kasih sayang orang tua itu gak ada matinya... Hanya saja, dalam waktu dua bulan terakhir ini, saya hanya menemukan dua observasi untuk membuktikan tentang hal tersebut, dan saya anggap dua observasi itu valid.

*Kejadian 16 November 2009
Pagi-pagi, sekitar pukul setengah 9, saya sudah capcus dari rumah yang berada di kawasan Bandung timur untuk menuju Bandung Electronic Center yang berada di pusat kota untunk men-service hape saya yang rusak. Saya sampai di BEC kurang lebih jam setengah 10, dan sialnya, BEC belum buka, huhuhu...
Sambil duduk menunggu di kursi depan BES, terdengar oleh saya percakapan Bapak (B) dan Ibu (I) yang juga sedang menunggu BEC buka, dan sepertinya mereka juga baru kenal, dan mereka pun mengobrol dengan bahasa sunda, maaf ya Pak, Bu, bukan maksud menguping, tapi atuh da kumaha deui da kedengeran, heuhue..
B : "Ibu, bukana BEC teh jam sabarahanya?"
(Ibu, kalo BEC bukanya jam berapa?)
I : "Duka Pak, saurna mah jam sapuluh.."
(Gatau juga Pak, katanya jam 10)
B : "Oh kitu, ibu bade aya priyogi naon ka BEC?"
(Oh gitu, Ibu ada perlu apa pergi ke BEC?)
I : "Ieu geura pun anak hapena ical, tos sabaraha kali, ayeuna bade meser deui, tos kapok ah ayeuna mah, upami Bapak aya priyogi naon?"
(Ini anak saya, hapenya ilang udah beberapa kali, sekarang mau beli lagi, tapi mau beli yang murah aja, da udah kapok ilang. Kalo Bapak, ada perlu apa ke BEC)
B : "Ieu geura pun anak, kamari teh cenah hoyong hape ieu (sambil menunjukkan hapenya), ku abdi teh tos dipeserkeun, ngan naha cenah, kamera na ngan 1 MP, hoyongna mah pun anak teh 2 MP"
(Ini anak saya, kemaren teh pengen hape ini, sama saya udah dibeliin, tapi kenapa dia jadi komplain, gara-gara hape ii berkamera 1MP, nah anak saya pengen nya 2MP)

Sudah membaca sodara2 dialog singkat di atas?
Wew, si Bapak itu niat sekali datang pagi-pagi ke BEC hanya untuk menukarkan handphone dengan handphone yang lebih bagus lagi demi anaknya. mungkin saja si Bapak tersebut mempunyai opportunity cost dengan mengorbankan waktu kerja demi anaknya, huhu.. Padahal menurut saya, anaknya aja yang gak tau diri.. Udah minta hati malah mau jantung, huhu...

*Kejadian 19 Desember 2009
Saya ingin memanjakan diri, oleh karena itu saya berniat untuk pergi ke salon, jadi lah saya pergi ke salon. Kemudian, pada saat saya sedang berada di salon, datanglah seorang bapak2 (B) yang menanyai Ibu Salon (I)
B : "Bu, mau nanya, kalo dibonding berapa jam ya? anak saya mau dibonding.. Terus biayanya berapa?"
I : "Kira-kira 3 jam-an lah Pak,Biayanya sekitar 350an, tapi tergantung jenis rambutnya dulu.."
B : "Jenis rambut anak saya ikal, sebahu gitu lah Bu.."
I :" Iya Pak, makanya bawa dulu aja anaknya kesini, tar saya liat, kalo emang misalkan rambutnya tipis, mungkin bisa kurang dari 350 ribu."
B : "Iya Bu entar saya bawa anak saya kesini kalo udah pulang sekolah.. Dia tu kemaren dipotong di salon baru, tapi gagal, kurang memuaskan gitu deh Bu, jadi sekarang suka nangis-nangis..."
I : "Oh anaknya masih sekolah PAk? Kelas Berapa Pak?"
B :" Kelas 1 SD.."

Wkwkwk...Buset deh kelas 1 SD udah pengen direbonding>_<

See, dua observasi yangtidak sengaja saya temukan tersebut telah menunjukkan bahwa kasih sayang orang tua gak ada matinya, orang tua akan rela melakukan apapun demi anaknya, huhu jadi sedihT_T
Dua observasi tersebut hanya sepersekian persen untuk menggambarkan kasih sayang orang tua, mereka melakukan apapun yang mereka bisa demi anaknya, padahal dua observasi tersebuat di atas rada-rada konyol juga sih sebagai anak, hehue..
Saya yakin kamu juga menemukan kasih sayang orang tuamu terhadapmu kan?
So..Love ur parents as a family..
Because Family is (F)ather (A)nd (M)other (I) (L)ove (Y)ou..

Ngantuk ah,,,tidur dulu, judul ama isi ga koheren, hihi, baelah, bukan pelajaran bahasa Indonesia inih, hihi...

Dependable

Diposkan oleh Chitra Lisyalaras di 6:34:00 AM 0 komentar
Reblog Notes facebook 22 November 2009

iDescribe...

Yup, iDescribe...

Bukan nama makanan, bukan nama cowok cakep, atau bukan juga penyakit ganas yang sudah menjadi endemik di suatu daerah...

Tau kan? itu tuh aplikasi facebook yang menawarkan kita untuk describing someone by 5 words... Ya, ada macem-macem pilihannya... Cute, clever, knowleadgable, silly, shy, sensible, sentimental, caring, dan lain-lain...

Suatu saat, saya membuka facebook, ketika saya membuka notificationnya, saya lihat ada dua teman kuliah saya yang memberi iDescribe pada saya. Saya pun membukanya, tidak sabar ingin mengetahui penilaian mereka terhadap saya. Kemudian, saya baca 5 kata penilaian untuk saya, dan saya tertegun ketika melihat satu kata, yaitu:

DEPENDABLE

Tau artinya?
Menurut kamus Inggris-Indonesia (John M. Echols dan Hassan Shadily:173), dependable merupakan sebuah kata sifat, yang artinya dapat dipercayai atau diandalkan.

Begitu teman-teman saya menilai hal itu terhadap saya, saya tertegun sejenak. Saya berpikir di kampus kami tidaklah dekat, em, ralat denk, dekat sih dekat, cuma gimana ya, kita kayaknya ga punya kontak batin yang kuat sebagai sahabat, halah...Ya bingung siy, sering juga siy berinteraksi dengan kedua teman yang ini, kadang-kadang kalo lagi "kejebak" bersama, suka juga curhat ko... Tapi ya gak intens aja...

Entah mengapa mereka menilai saya "dependable", entah mungkin beneran, entah salah ngeklik, entah hanya basa-basi, hihihi... Tapi, saya sangat senang dinilai "dependable" oleh dia... Sungguh amat sangat senang sekali... (pemborosan kata dalam bahasa Indonesia, tidak sesuai dengan EYD, dan jangan dituruti, hihihi...)

Tebak kenapa saya sangat senang?
Saya pikir, orang yang ga terlalu dekat dengan saya saja bisa mempercayai saya...
Padahal, beberapa orang terdekat saya saja rasanya ada yang tidak mempercayai saya, selalu menyembunyikan sesuatu pada saya, menutup-nutupi sesuatu pada saya...
Memang, ada beberapa hal yang gak bisa diceritakan..

Tapi, jika menyembunyikan yang satu itu (dan beberapa hal lain yang harusnya diceritakan) sangatlah SUCKS...

Orang terdekat saya menganggap saya tidak dependable.
Sedangkan orang yang tidak terlalu dekat menganggap saya dependable.
SUNGGUH IRONI.

Conditional Love

Diposkan oleh Chitra Lisyalaras di 6:32:00 AM 0 komentar
Reblog notes facebook 21 November 2009

Refresh your mind...

CONDITIONAL
Type 1 (open condition)
Form: Present Perfect in 'if' clause + Subject + will/shall/can/may + Verb in main clause
Example: If he loves her, he will marry her.

Type 2 (improbable or imaginary condition)
Form : Simple Past in 'if' clause + Subject + would/should/could/might + Plain infinitive (verb)
Example: If I had money, I could study in America.

Type 3 (unfulfilled condition)
Form: Past Perfect in 'if' clause + Subject + would/should/could/might + have + Past Participle in main clause
Example: If you had resigned the job, you would have faced several financial troubles.

Udah inget sama rumus conditional di atas?
Selama kita sekolah atau kuliah Bahasa Inggris, pasti pernah lah dicekokin sama rumus conditional itu. jujur aja, saya sempet lupa, kemaren-kemaren baru inget lagi setelah saya dan pacar saya belajar bareng karena mau ujian bahasa Inggris, hihihi... jadi deh inget lagi, walopun sampe sekarang, tetep aja suka terjebak sama bentuk soal conditional kalo pas test TOEFL ato TOEIC, hehehe...

Udah ah, gakan ngasih pelajaran bahasa Inggris juga siy, hehehe...
Gara-gara inget rumus conditional ini, jadi keingetan sesuatu...
Dulu, saya pernah membaca artikel di majalah Intisari yang judulnya Conditional Love, tapi sayangnya lupa edisi berapa, bulan apa, terus halamn berapa, dan saya yakin jika tulisan ini adalah skripsi, sudah pasti saya akan dicerca abis oleh penguji karena saya lupa mencantumkan daftar pustaka.hihihi...
Back to topic ah, artikel tersebut menceritakan tentang seorang remaja Inggris yang bernama Melissa Butler. Dia sangat depresi karena orang tuanya selalu menuntut dia agar memperoleh nilai akademik ayng tinggi. Gadis ber-IQ 178 ini (wew, gede banget, emag batas tertinggi IQ berapa siy?jujur saya tidak tahu, hehe) merasa bosan dan tidak bahagia dengan perlakuan da tuntutan orang tuanya. Yang di apikirkan saat itu hanyalah bagaimana menjadi orang pintar secara akademis sehingga orang tua dapat menyayanginya. Akibat rasa tertekan itulah, ia melakukan tindakan ekstrem sebagai penari striptease. Dia merasa lebih berbahagia dengan menjadi stripper karena di adapat melakukannya tanpa tekanan, heuheuheu...

Kasus Melissa di atas menurut majalah Intsari tersebut merupakan "korban" dari conditional love atau cinta bersyarat. Cinta yang bersyarat tersebut artinya rasa cinta atau kasih sayang yang diberikan kepada seseorang kalau orang tersebut dapat memenuhi keinginan orang yang menyaratkannya.

Hmmmm, gimana ya... Emang siy, menurut saya pun conditional love dapat terjadi dimana aja, tidak terkecuali di rumah atau keluarga. Ya itu tadi, contoh kasus Melissa itu adalah contoh cinta bersyarat yang terjadi di lingkungan keluarga, yang notabenenya merupakan media sosialisasi pertama sejak kita lahir. Kadangkala, ada sebagian orang tua yang 'hanya' menyayangi anaknya setelah anaknya itu mendapat nilai akademik serta prestasi yang membanggakan.

Conditional love juga bisa terjadi di tempat lain, yaitu sekolah. Saya rasa conditional love yang terjadi di sekolah tidak berbeda jauh dengan yang terjadi di rumah. Kadanga-kadang, ada sebagian guru yang memberikan kasih sayang lebih banyak terhadap murid-murid yang labelnya pintar. Sedangkan pada anak yang cenderung 'bodoh', sikap para guru sepertinya biasa saja, bahkan terkesan cuek.

Di kalangan teman sepermainan dan dunia pacar-pacaran pun, conditional love pun tidak mau ketinggalan. Ada kalanya, seseorang mencari teman dan hanya mau berteman ketika si teman dapat memberikan keuntungan bagi dirinya. Misalkan kita akan mau menjadi teman atau pacarnya ketika teman/pacar kita memberikan benefit terhadap kita, misalkan materi a.k.a. uang, heuhue...

Jika ditilik-tilik lebih dalam lagi, kehidupan duniawi yang kita alami tidak jauh dengan apa yang namanya syarat, tidak hanya cinta ataupun kasih sayang. Segala sesuatu yang kita lakukan haruslah memenuhi syarat, sebagai contoh:
*Ketika kita memasuki dunia sekolah, kita harus memenuhi persyaratan administratif maupun persyaratan akademik yang telah ditentukan.
*Ketika kita memasuki dunia kerja dan ingin masuk ke sebuah perusahaan, kita harus memenuhi kulaifikasi yang telah ditentukan.
*Ketika kita mengajukan kredit ke bank, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain:
- 5C : character, capacity, collateral, capital, condition of economy
- 3R : returns, repayment, risk and bearing ability
See? begitu dunia ini dipenuhi dengan syarat, heuheuheu...

Ya, begitulah, conditional love ada dimana-mana. Tapi, saya yakin sesuatu hal itu terdapat sisi positif dan sisi negatif. Satu sisi, conditional love emang jelek, tapi ya hadepin dengan nyantei aja, yang penting jangan ampe depresi kayak Melissa, hihihi... Tapi di sisi lain, 'conditional love' yang dilakukan orang tua pda kita jga ga ada salahnya kok, sikap orang tua yang kayak gitu bisa menjadikan anaknya pinter, asal caranya aja bener. Terus, conditional love yang dilakukan oleh ortu dan guru juga bisa jadi merupakan hadiah karena kita udah rajin belajar dan jadi pinter, hehehe...

Tapiiii, kayaknya conditional love ini ga bagus deh kalo diaplikasikan dalam cari temen atau cari pacar, heuheue... Nyari teman, sahabat, maupun pacar kayaknya lebih indah deh kalo dilandasi rasa tulus dan tanpa cinta bersyarat. Lagian conditional love dalam hal ini kayaknya ga bagus dan berefek multiplier negatif yang sangat besar, sama kayak efek negatif dari korupsi terhadap penerimaan pajak pemerintah, heuheuheu...

Hemmm, walopun di sekeliling kita penuh dengan cinta bersyarat, ada lho satu hal yang ga mengandung cinta bersyarat...

coba tebak?


Apa coba?


Yup, jawabannya adalah Allah SWT... Dia yang Maha Sempurna...


Tuhan itu ikhlas kan menyayangi semua umat-Nya tanpa terkecuali?
 

duniachitra Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review